Gunung Merbabu adalah gunung yang berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan Kota Salatiga dan Kabupaten Semarangdi lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.


Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan
perjalanan kami mulai dari solo , ada 14 orang (8 laki-laki dan 6 permpuan ) mengendarai sepeda motor menuju pos Selo tempat awal pendakian merbabu mulai pukul 06.00
pendakian gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Disepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn.Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.
Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.
Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk


Di pos Selo awal pendakian kami memanfaatkan kesempatan untuk mengatur perbekalan atau bahan bawaan masing-masing dan ada sebagian yang mempersiapkan diri menggunakan air karena di perjalanan puncak merbabu tidak ada sumber air .
. Perjalanan dari Pos Selo yang berada di tengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Hutan Pinus kita harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga - Boyolali terutama di malam hari.
Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II,sesampainya di pos II kami beristirahat makan nasi Kucing dan Roti yang mungkin ada yang merasa lapar atau harus menghangatkan diri dengan makanan menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam sesampainya di pos III kami beristirahat sejenak dan mulai menetapkan tempat dan mendirikan 4 buah tenda . hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka.

Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. berbagai peralatan kami tinggal di tenda menpaki jalan setapak kami berharap sampai ke puncak yang lebih tinggi Mendekati pos empat atau sabana 1 kita mendaki Bukit jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos empat berupa sabana dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini,
Menuju Pos lima atau sabana 2 jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) atau puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang. namun sayangnya perjalanan kami hentikan sampai disini mengingat resiko perjalanan
akhirnya kami kembali ke pos 3 dan karena sudah sore kami mempersiapkan diri untuk bermalam . malam yang begitu dingin kai pun terbangun di padi hari saat matahari akan terbit dan ternyata sangat menarik di pos 3 kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Sunrise yang begitu menawan. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.


setelah selesai berekreasi dan berfoto ria kami memutuskan untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan turun. ternyata jalur menurun lebih berbahaya karena sangat licin menginggat jalanan yang basah dan tanah.
. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan saja terima kasih dan yang membawa botol bekas berikan sebagai ucapan terimakasih :D


