Langsung ke konten utama

Pembagian Profit Yang Fair Dalam Kerjasama Bisnis

Pembagian Profit Yang Fair Dalam Kerjasama Bisnis
Sistem bagi hasil merupakan cara yang paling baik dalam hubungan bisnis yang dikelola dua orang atau lebih. Dari beberapa pengalaman kejasama bisnis penulis, ada satu hal yang menarik dan sangat penting untuk ditelaah, yaitu masalah pembagian keuntungan bersih (profit) yang fair.
Contoh kasus berikut berdasarkan pengalaman nyata penulis dengan objek bisnis disamarkan.
Penulis mempunyai keahlian dalam memproduksi asam cuka kelapa (coconut vinegar), merancang layout tempat produksi, proses produksi, hingga pemasaran. Cuka kelapa adalah objek bisnis yang cukup potensial, karena kualitasnya lebih baik daripada cuka murni (acetic acid) yang diencerkan. Cuka ini biasanya ditambahkan ke dalam makanan seperti salad atau bakso. Penulis tidak memiliki dana, tidak ada pilihan lain yang relatif cepat kecuali mengajak seseorang yang memiliki dana sebagai investor untuk menjalankan bisnis tersebut.
Selang beberapa waktu setelah pencarian rekan bisnis, ada seorang teman yang tertarik. Setelah penulis menunjukkan dan menjelaskan bisnis plan  cuka kelapa tersebut, dia yakin dan mau bekerjasama, hingga tibalah pada pembicaraan mengenai pembagian hasil.
Setelah diskusi yang agak alot, kami sepakat untuk membagi hasil 70% untuk investor dan 30% untuk pengelola.
Sebenarnya pembagian hasil contoh kasus di atas tidak begitu fair, namun karena kondisi keuangan penulis yang sulit, penulis tidak memiliki posisi tawar yang kuat, selain itu karena investor terlibat langsung dalam merintis bisnis tersebut.
Menurut penulis dari pengalaman sendiri dan orang lain, serta dari berbagai media, sistem bagi hasil yang fair (dalam persen) antara investor (I) dengan pengelola (P) antara adalah sebagai berikut:
1.    I:P = 30:70, apabila investor sama sekali tidak terlibat dalam menjalankan bisnis.
2.    I:P = 40:60, apabila investor terlibat dalam merintis bisnis, ketika bisnis telah mulai stabil, pengelola menjalankan bisnis sepenuhnya dan memberikan laporan bisnis dalam jangka waktu yang disepakati terhadap investor.
3.    I:P = 50:50, apabila investor terlibat terus dalam keputusan-keputusan bisnis.
4.    I:P = 60:40, apabila investor mengurus pemasaran dan keuangan, sedangkan pengelola hanya mengurus masalah proses produksi.
5.    I:P = 70:30, apabila investor mengurus pemasaran dan keuangan dan memiliki keerlibatan dalam proses produksi.
Pembagian di atas bersifat dinamis, hanya sebagai bahan pertimbangan. Penulis sangat menyarankan untuk mencari kesepakatan yang benar-benar ikhlas antara kedua belah pihak, jangan ada rasa keterpaksaan seperti contoh kasus di atas. Hal ini sangat sensitif terhadap masa depan kelangsungan bisnis, deskripsikan secara detail peranan masing-masing dalam surat perjanjian bisnis yang diakui oleh hukum pemerintah yang berlaku.
Pesan penulis kepada investor, dana bukanlah segala-galanya, janganlah sampai merasa dana lebih penting dari ide atau keahlian pengelola. Penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut sama kedudukannya. Demikian juga pada pengelola yang memiliki keahlian, pertimbangkan juga keterlibatan investor dalam menjalankan bisnis, serta kecepatan balik modalnya, Return of Investment (ROI).
Semoga Bermanfaat, Salam Hangat Sahabat Kompasioner ^_^
Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki(H.R.Ahmad).
Catatan:
1.    Apabila investor lebih dari satu orang, hasilnya dibagi rata, setelah pembagian dengan pengelola.
2.    Produk, bisa berupa barang ataupun jasa.


Postingan populer dari blog ini

Dalam artikel ini kita akan bermain dengan suara bersama Arduino mulai dari menggunakan fungsi tone() untuk membangkitkan nada hingga proyek kompleks yang sanggup membuat Arduino memainkan musik polyphonic dan mengucapkan kalimat yang diberikan dari masukan berupa teks. Untuk itu artikel ini akan dibagi menjadi beberapa bagian bersambung. Mari kita mulai dari yang paling sederhana…   membangkitkan nada dengan frekuensi tertentu . Sebelum memulai dengan kode program, mari kita buat perangkat kerasnya terlebih dahulu. Yang perlu kita persiapkan: ·         Arduino Uno ·         Speaker   8 ohm ·         Resistor 100 ohm ·         Papan Rancang  Purnarupa ( Prototype Design Board ), atau dikenal dengan istilah Breadboard Hubungkan komponen-komponen elektronika yang sudah Anda siapkan seperti ilustrasi di bawah ini ( c...

Refresing Muhammadiyah

Refresing Muhammadiyah Banyak agenda yang didasari tentang pengajian namun kali ini namanya cukup menarik. Refresing seringkali dimaknai dengan bersenang senang. berbeda dengan Muhammadiyah, dalam hal ini makna refresing sangat luar biasa yaitu dengan pengajian dan siraman rohani. Salah satunya adalah yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta  dengan pembicara Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed  20 Juni 2016 / 17 Ramadhan 1437 jam 20.00 sampai elesai Di Balai Muhammadiyah Surakarta. Temanya "Ramadhan dan Spirit Baru Melaksanakan Amanah Persyarikatan" menurut pak Mu'ti Gerakan adalah proses yang dinamis . Muhammadiyah mesti mesti move on. Gerakan harus proaktiv. Dalam beberapa hal harus agresif . Tidak hanya bersegera dalam kebaikan namun fastabiqul khoirot. Dakwak itu tidak harus berupa retorika dan orasi . Memberikan contoh itu juga merupakan dakwah . Harapannya adalah dapat mencari model atau bentuk dakwah dalam masyarakat sesuai perkembangan zaman.  Sesu...

PENDAKIAN MERBABU

Gunung Merbabu  adalah gunung yang berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan Kota Salatiga dan  K abupaten Semarangdi lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.    Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung , yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau  survival ), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan perjalanan kami mulai dari solo , ada ...